Sabtu, 21 Februari 2009

Ini Puasa yg Beddaaa....

“ Dua kebahagiaan bagi orang yang sedang berpuasa adalah, pada saat berbuka dan ketika ia menemui Tuhannya “. (HR. Bukhori).

Kebanyakan orang mengartikan “ puasa “ disini hanyalah sebatas puasa menahan haus dan lapar pada bulan suci Ramadhan saja. Dan “ berbuka “ nyapun sebatas berbuka pada waktu maghrib setelah seharian menahan haus dan lapar tadi. Padahal, ada satu arti lain yang dapat kita terjemahkan dari “ puasa “ dan “ berbuka “ ini.

“Puasa” yang dimaksud disini adalah “puasa pacaran”, dan “buka”nya adalah “pernikahan”. Karena pada dasarnya, pacaran tidak ada dalam islam. Pacaran adalah kebiasaan orang-orang yahudi yang disebarkan guna merusak akhlak umat muslim dengan dalih untuk saling mengenal, yang kenyataannya adalah untuk merusak pola fikir dan kesucian islam. Namun demikian, pacaran sudah menjadi hal yang sangat sepele, bahkan yang tidak pacaran justru menjadi bahan olokan.

Itulah sebabnya, mengapa umat muslim sepatutnya mengetahui puasa yang satu ini. Waktunya bukan dibulan Ramadhan, Syawal, Rajab, atau bulan-bulan yang lain. Watunya adalah sepanjang masa lajang, sejak seseorang memasuki usia baligh sampai ia mengikrarkan pernikahan.

Bukankah bangga bila kita mampu menjaga kesucian dan kehormatan diri hanya untuk Dia dan dia yang akan menjadi satu-satunya pendamping kita kelak? Bukankah bangga ketika kita bisa berjalan dimuka bumi seraya berkata, kecantikanku, ketampananku, keindahan tubuhku, cinta dan kasih sayangku hanya untuk-Mu dan kamu yang telah ditetapkan hanya untukku? Kita bisa menatap pasangan kita dipelaminan dengan penuh bangga dan percaya diri, tanpa rasa bersalah karena merasa pernah disentuh oleh yang lain, tanpa merasa seperti memberikan sisa-sisa pada pasangan kita. Dan kitapun dapat dengan bangga mengucapkan, “ Aku hanya Untukmu “.

Lain halnya dengan orang-orang yang sudah terbiasa atau sering pacaran dengan alasan mencari yang cocok, perkenalan, penjajakan, dan segudang alasan lainnya. Tidak ada yang patut dibanggakan. Bahkan, semua penjajakan seakan diakhiri dengan mempersembahkan sisa-sisa bagi pasangan kita. Satu kenyataan yang ironis sekali.

Maka dari itu, bukankah sudah saatnya bagi kita untuk menjaga kesucian dan kehormatan diri kita hanya untuk seseorang yang memang sudah ditetapkan hanya untuk kita? Mari budayakan puasa ini dalam diri kita. Tanamkan dalam jiwa buah hati kita, sampaikan pada sahabat kita, sampai nanti waktunya tiba. Ubah pola fakir kita. Lupakan semua perjalanan kelam, dan masuklah kedalam cahaya yang terang benderang. Bertahanlah dari godaan kenikmatan yang hanya selayang pandang dan berujung siksaan, demi menggapai kenikmatan yang tak berkesudahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar